Berada dalam satu lingkaran, salah. Tidak berada dalam satu lingkaran pun salah. Tidak ada hentinya bergunjing tentang keputusan seseorang.

Tidakkah lebih baik diam atau setidaknya bertanya daripada membicarakan sesuatu yang tidak tepat?

Kau yang membuat berita, kau yang menyebarkan dan kau yang lari dari pertanggung jawaban.

Sudah cukup ku memberi ruang. Sekarang sudah tahu apa yang harus kulakukan. Tersenyum. Iya, tersenyum. :)

Aku tahu siapa yang selalu ada dan siapa yang hanya ingin mencari muka. Aku tahu siapa yang peduli dan siapa yang hanya ingin tahu.

Biarkan mereka berucap apa yang ingin mereka ucap. Ada saatnya nanti mereka diam dengan sendirinya. Entah kapan. Tetapi ku harap, secepatnya.

Cerita Yang Bercerita.

Hidup memang tidak semudah mencari-cari kesalahan orang lain. Pun hidup tidak semudah memberikan ‘love’ di Path. Untuk itu, saya menghargai hidup dan orang-orang yang telah mengajarkannya kepada saya.

Saya beruntung mengenal dia. Seseorang yang rela berkorban dan penuh tanggung jawab. Dan dia merupakan ‘guru’ saya.

Perkenalan saya dengannya berawal hanya sebatas saya tahu dia, dan dia tidak tahi saya. Awalnya, saya menganggap hanya sebatas ketua dan anggota. Tidak lebih. Tetapi, semesta punya caranya sendiri. Semesta ingin saya belajar banyak darinya.

Awal perkenalan, dia sudah banyak cerita kepada saya. Bagaimana seseorang yang baru kenal, tetapi dia sudah banyak cerita? Mungkin itu pertanda jika dia sepaham dengan saya. Pikir saya waktu itu.

Hari demi hari, semakin sering saya bertemu dengannya karena memang kami sering meeting bersama. Saya semakin intens dengannya. Telah banyak cerita yang ia sampaikan kepada saya.

Saya semakin merasa bahwa kami satu pemikiran. Dan ternyata itu benar. Dari cerita yang ia sampaikan, kami mempunyai beberapa persamaan. Jika kalian bertanya-tanya siapakah dia, maka dia adalah Nur Aini Sekar Putri Mentari.

Kak Ajeng. Begitu saya menyapa-nya. Seorang anak perempuan yang ambisius dan kharismatik. Mempunyai jiwa kepemimpinan yang penuh tanggung jawab. Mempunyai ide-ide brilian dan rela berkorban untuk kepentingan bersama.

Dia adalah mantan ketua BEMF Psikologi di mana saya kuliah. Baru saja ia melepas masa jabatannya.

Sudah tidak ada lagi rasa canggung seperti saat awal-awal saya mengenalnya. Dia adalah kakak saya. Telah banyak yang dia ajarkan kepada saya baik langsung maupun tidak langsung.

Ada sedikit rasa penyesalan kenapa tidak dari dulu saya mengenalnya. Memang, penyesalan selalu datang di akhir.

Kami sering bertukar cerita. Baik itu tentang perkuliahan, bahkan sampai hal yang pribadi sekali pun. Seperti tentang percintaan dan keluarga. Hubungan saya dengan dia memang sudah sangat dekat.

Sebagai seorang kakak, dia sangat perhatian. Bukan saja kepada saya, melainkan kepada banyak orang. Jika kata orang Jawa, dia itu ‘ngemong’.

Suatu ketika, kami sedang membahas acara kami disebuah tempat jajan. Dan tiba-tiba datanglah, maaf, waria mengamen. Kami berdua langsung lari ke dalam. Oh iya, saat sedang berdiskusi, kami berada di luar. Ternyata dia memiliki ketakutan yang sama dengan saya. Bagi saya, ini lucu. Hehe.

Lain ceritanya saat kami sedang survei tempat ke daerah kota tua. Saat ingin membeli tiket commuter dari stasiun Jakarta Kota, saya dan dia antri sangat panjang. Tiba-tiba datanglah satpam dan bertanya kami hendak ke mana. Lalu kami jawab, Depok. Dan satpam itu bilang lagi jika kami salah antri. Loket yang sedang kami antri itu loket khusus kereta luar kota.

Banyak sekali hal-hal yang bagi kami konyol. Entah itu saya yang mengalami, dia ataupun kami. Jika saya tulis, saya rasa tidak akan selesai.

Kak Ajeng, 8 Juli lalu kakak berulang tahun. Sudah 22 tahun kakak menuliskan kisah hidup kakak. Sudah banyak orang yang menjadikan kakak inspirasi-nya termasuk saya.

Maaf, tidak ada yang bisa saya berikan, selain doa yang tulus dan tulisan ini. Saya selalu ingat bahwa tidak penting seberapa jauh kita berada, doa akan selalu menjadi jembatan untuk kita.

Kak Ajeng. Cepat selesaikan skripsi-mu. Pakailah toga dan bawa harum nama keluarga. Ingat, di ujung sana sudah ada yang menunggumu. Seseorang yang sering kamu ceritakan :)

Kak Ajeng. Jangan lupa terus doakan kami, para adikmu. Biar kami mempunyai jiwa yang tangguh seperti anda. Jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab yang besar. Jiwa rela berkorban untuk sesama.

Kak Ajeng. Terima kasih telah memberikan banyak cerita. Memberikan banyak pelajaran. Memberikan banyak waktunya untuk kami.

Sekarang saatnya Kakak fokus untuk masa depan kakak. Bekerja sebagai wanita karir, mempunyai EO, dan tinggal di luar negeri untuk nantinya kembali dan membawa banyak pelajaran baru untuk kami. Bukan begitu, kak?

Satu lagi, kak. Hidup terlalu singkat untuk memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan.

Sekarang, saya hanya ingin bilang bahwa saya sangat sayang kepada kakak.

Jangan pernah lupakan kami, para adikmu. Para pasukan bodrex :)

With love, R. Widura Abiseka.

Surat Berhijab.

Bismillahirahmanirahim. Segala puji dan syukur saya panjatkan… *Ngoengg, kelindes sepeda*

Jadi gini, di twitter saya lagi rame tentang surat terbuka. Mungkin suratnya belom dapet hidayah, jadi masih terbuka. Maka, izinkanlah saya untuk menulis surat berhijab.

*TEBAR-TEBAR POTONGAN KERTAS WARNA-WARNI*

SMAN 3 Jakarta. Boleh dibilang merupakan tempat lahir saya. Kenapa? Karena saya memang telah ingin menjejakan kaki di sana sejak saya masih SMP. Tidak perlu ribet memilih SMA, pikir saya. Toh nanti sama-sama pake baju putih-abu-abu.

Jika kalian tahu alasan saya memilih menjadikan SMA 3 sebagai tempat saya belajar, mungkin kalian akan tertawa. Alasan saya karena SMA 3 merupakan sekolah favorite dan sekolah artis. Kalian tau Jason Mraz, Bruno Mars, bahkan Queen Beyonce? Nah mereka itu penyanyi. Bukan. Bukan alumni SMA 3. Se-simple itu.

Jadi, begini….

Di tempat ini, saya menghabiskan 3 tahun dengan sangat penuh kecerian. Tapi tidak jarang teselip kesedihan. Seperti saat ingin tes TOEFL saya harus memanjat pagar karena saya telat. Ya, itu merupakan kesedihan menurut saya, karena anak baik macam saya mana mungkin manjat pagar? Oke, maaf.

Tahun pertama, saya masih sangatlah polos. Dengan masih mengenakan seragam putih-biru, tergantung di dada lambang SMA 3 yaitu bunga tulip beserta foto dengan lipstik hijau dan merah tidak ketinggalan gelang-gelang yang memenuhi kedua belah tangan.

‘Acicole acicoleta acicampe’em acem acem acem, huh’ bagi sebagian kalian, pasti ingat dengan jargon itu. Semua siswa yang baru masuk, pasti akan mengumandangkannya. Termasuk Nikita Willy. Iya, Nikita Willy. Orang yang pertama ditanyakan ketika seseorang menanyakan asal SMA saya. “Oh lo anak 3? Kenal Nikita Willy, dong?” Terus saya jawab “Oh Nikita Willy yang kenal saya.”

Di tahun ini, saya menemukan teman saya yang sangat cerdas. Disaat ia akan membeli mie yamin bude bersama seorang temannya, karena gak mau ribet, jadilah 2 mie yamin dijadikan 1. Nah, kemudian terjadi percakapan.

“Eh lo biasanya sambelnya berapa sendok?” Tanya (sebut saja) Bunga.
“6 sendok” Jawab (sebut saja) Bangke. Lalu Bunga pun nyaut
“Gue juga biasanya 6, yaudahlah, jadi 12 sendok”.
Akhir kata, Bunga dan Bangke inipun masuk ruang ICU. Nggak deng :))))

Tahun kedua saya sudah menjadi anggota Social. Iya, saya anak IPS. Ikatan Pelajar Sukses. Aamiin. Hidup anak IPS benar-benar penuh dengan bersosialisasi. Yep, bersosialisasi dengan mengunjungi kelas-kelas lain, mengunjungi orang-orang koperasi dan kantin saat jam pelajaran berlangsung bahkan mengunjungi satpam hanya sekadar untuk bercakap-cakap lalu gak lama kemudian udah di depan pagar sekolah aja. Oh, anak IPA juga untuk yang satu ini. *Ditendang*

Oh yes! Di tahun ini saya sekelas dengan seorang murid yang cubanget! Di saat pelajaran sedang berlangsung dan guru sedang menerangkan, dia tidur ajadong di kolong meja. Jangan sedih, dia udah sedia pulpen sebelum kena marah. Untuk apa? Ya untuk alasan dong kalo ditanya guru ngapain dia di kolong meja. Kurang lebih seperti ini.

Guru: “Heh yang di sana, ngapain kamu di kolong?”
Murid: ” ini bu, ngambil pulpen yang jatoh” *sambil nunjukin pulpen yang telah ia siapkan*

Saya gak akan nyebut nama, tapi yang pasti, teman saya ini finalis abang none selatan 2014. *KEPROK TANGAN*

Tahun ketiga saya masih menjadi anak yang gemar bersosialisasi. Oh di tahun ini bukan hanya belajar biasa aja di kelas, tapi ditambah bimbel BTA. Jangan sedih, iuran di tahun ketiga ini lumayan kalo buat belanja di Pull&Bear. Dapet lah jeans sama kaos. Indah, bukan? :)

Cielah anak kelas XII. Seragam anak kelas XII biasanya udah mrecet-mrecet nih. Bukan, bukan karena gak muat. Emang pada dikecilin aja. *mingkem*

Di tahun ini sih yang bikin sedih. Secinta-cintanya saya di SMA 3, cukup 3 tahun sahaja.

Kehidupan selama 3 tahun saya gak se-simple alasan saya untuk masuk SMA 3. Nggak kelar dong kalo saya ceritain semua. Kehidupan SMA saya, kurang lebih sama lah dengan kalian. Oh mungkin bedanya ya itu tadi. Kabar saya jarang ditanyakan, lebih sering ditanya kabar kakak Niki. (((Kakak Niki))).

Eh tapi sebentar. Belakangan ini, nama SMA 3 lebih sering diperbincangkan. Entah, saya tidak akan membahasnya. Setau saya, SMA 3 itu SMA Teladan. Teladan, Tiga, Teladan.

Oh ini yang bikin saya kesel kalo nulis tentang SMA. Banyak yang mau diceritain, tapi males ngetiknya. Saya butuh joki. Mungkin yang biasa diri di pinggir jalan Sudirman bisa membantu saya. *salah joki, itu joki 3 in 1* itu joki apa kopi kapal api susu? Kok 3 in 1?

MAAFKAN SAYA SAUDARA-SAUDARA!!!!

Udahlah. Btw kalian udah bayaran iuran belom? Ini nih yang seru, kalo yang belom bayaran pas mau uts atau uas, gak bisa dapet legitimasi. Ujung-ujungnya pake kertas kuning. :)))

1 lagi. SURAT KUNING KALIAN UDAH ADA BERAPA LEMBAR, GAES? GAES? KOK KABUR?

Akhir postingan, cukup sekian dan terima kiriman parcel dan kue kering untuk lebaran.

JAYA-JAYALAAAH SMA TIGA, UNTUK SLAMA-LAMANYAAA~

“Di antara kita, hanya saling memandang, tanpa menggenggam.”

“Di antara kita, hanya aku yang merindu dan kamu yang menjauh.”

“Di antara kita, terdapat jurang yang begitu dalam, dan lelehan rindu pada dasarnya.”

“Di antara kita, hanya ada satu kata. Yaitu, cinta.”

Tugas Softskill 1.

Sejarah Singkat Perkembangan Kesehatan Mental

 

Ini merupakan suatu pembahasan yang sangat luas, karena perkembangan kesehatan mental ini terjadi di seluruh dunia. Setelah Perang Dunia II, perhatian masyarakat mengenai kesehatan jiwa semakin bertambah. Kesehatan mental bukan suatu hal yang baru bagi peradaban manusia. Pepatah Yunani tentang mens sana in confore sano merupakan satu indikasi bahwa masyarakat di zaman sebelum masehi pun sudah memperhatikan betapa pentingnya aspek kesehatan mental. Yang tercatat dalam sejarah ilmu, khususnya di bidang kesehatan mental, kita dapat memahami bahwa gangguan mental itu telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada upaya-upaya mengatasinya sejalan dengan peradaban. Oleh karena itu saya akan membahasnya secara singkat. Sejarah Kesehatan Mental merupakan suatu cerminan pemahaman masyarakat tentang gangguan mental dan tindakan yang diberikan.
Ada beberapa pandangan masyarakat terhadap gangguan mental di dunia barat :
1. Akibat kekuatan supranatural
2. Dirasuki oleh roh/setan
3. Dianggap kriminal karena memiliki derajat kebinatangan yang besar
4. Dianggap memilaiki cara berpikir irrasional.
5. Dianggap sakit
6. Merupakan reaksi terhadap tekanan atau stress maladaptive
7. Melarikan diri dari tanggung jawab
Untuk lebih lanjutnya, berikut dikemukakan secara singkat tentang sejarah perkembangan kesehatan mental.

 

Zaman Prasejarah

Seperti apakah penyakit mental yang dialami pada zaman purba? Ada suatu spekulasi bahwa beberapa gejala penyakit mental saat ini sama dan sangat mirip dengan yang ada pada saat itu. Pada zamannya, manusia purba sering mengalami gangguan-gangguan baik mental maupun fisik seperti infeksi arthritis, penyakit pernapasan dan usus. Tetapi penyakit mental pada saat itu benar benar ditangani cara pandang mereka adalah merawatnya sama seperti penyakit fisik, karena berfikir bahwa mental dan fisik disebabkan oleh penyebab yang sama, yakni roh-roh jahat, halilintar atau mantera-mantera musuh. Jadi tindakan perawatan yang diberikan untuk penyakit baik mental maupun fisik adalah seperti menggosok, menjilat, menghisap, memotong dan membalut.

Peradaban-peradaban Awal

Dalam peradaban yang dikenal di Mesir, Mesopotamia, India, Cina dan lainnya sepanjang zaman kuno (dari 5000 SM sampai 500 tahun M), penyakit mental mulai menjadi hal umum. Di Mesopotamia, penyakit mental dihubungkan dengan roh atau setan dan perawatannya dilakukan dengan upacara-upacara agama dan magis agar setan keluar dari tubuh si pasien. Sedangkan di Mesir, ilmu kedokteran agak lebih maju dan rasional. Contohnya seperti yang otak digambarkan untuk pertama kalinya dan diketahui juga peranannya dalam proses mental, dan disana juga dikembangkan terapi untuk pasien berupa rekreasi dan pekerjaan, serta diterapkan juga psikoterapi untuk mengobati penyakit mental. Sedangkan di Yahudi, penyakit mental diartikan sebagai suatu hukuman dari Tuhan dan hanya diobati dengan bertaubat.

• Phytagoras (orang yang pertama memberi penjelasan alamiah terhadap penyakit mental).
• Hypocrates (Ia berpendapat penyakit / gangguan otak adalah penyebab penyakit mental).
• Plato (gangguan mental sebagian gangguan moral, gangguan fisik dan sebagiaan lagi dari dewa-dewa).

Abad Pertengahan ( Abad Gelap)

Pada abad pertengahan, gangguan mental tidak dianggap sebagai penyakit. Banyak kebiasaan yang telah dilakukan dalam ilmu kedokteran sebelumnya tidak dilanjutkan, dan hal yang lebih buruk seperti takhayul dan ilmu tentang setan malah dihidupkan kembali. Exorcisme pada abad ini digunakan sebagai perawatan orang yang mengalami gangguan mental. Yaitu dengan menggunakan mantra- mantra dan jimat-jimat.pada tahun 1600an (dan sebelumnya) : Orang yang sakit secara mental dahulu kala dianggap sebagai “orang yang kesurupan” yang mengalami gangguan mental dimasuki oleh roh-roh. Maka dari itu penyembuhannyapun juga melalui healer, shaman atau penyembuh yang lebih dikenal dengan istilah dukun.

 

Zaman Renaisans

Saat para pasien sakit mental tenggelam dalam dunia takhayul, zaman ini tepatnya digambarkan sebagai “terang dalam kegelapan”. Di Switzerland, mengakui penyebab rasional penyakit mental dan menolak adanya kaitan dengan demonology. Di Prancis, lebih menggunakan pendekatan yang manusia terhadapa para pasien sakit mental,menganggap bahwa penyakit mental tidak berbeda dengan penyakit fisik.Tahun 1724: Pendeta Cotton Mather menjelaskan masalah kejiwaan yang menyebabkan gangguan yang terjadi di dalam tubuh sekaligus mematahkan takhayul yang berkembang selama ini.

Abad XVII – Abad XX

Pada abad ini masih merupakan proses peralihan dan pendekatan demonologis ke pendekatan ilmiah terhadap penyakit mental karena memang tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Tahun 1812: Benjamin Rush menjadi orang pertama yang mencoba menangani penyakit mental secara manusiawi. Llu itu di Inggris, muncul optimisme dalam menangani pasien sakit jiwa dengan perkembangan teori dan teknik untuk menangani orang sakit jiwa ini di rumah sakit. walaupun dalam prakteknya sering mengalami kegagalan sehingga lambat laun-pun muncul masa terapi pesimisme. Dan pada tahun 1950 diteruskan untuk melanjutkan mendidik publik Amerika pada isu-isu kesehatan mental dan mempromosikan kesadaran akan kesehatan mental.

Psikiatri

Pada tahun 1900- an, gangguan mental dianggap sebagai bukan penyakit. Dilakukannya usaha untuk menolong para pasien sakit mental tetapi akhir abad itu dokter-dokter belum menemukan penyebab atau pencegahan, penyembuhan, atau perawatan yang efektif terhadap penyakit mental meskipun mereka telah mengklasifikasikan beribu-ribu macam kekalutan mental. Selama abad ke-19 perkembangan dalam kesehatan mental terjadi pada 4 bidang umum: perlakuan terhadap pasien sakit mental yang lebih manusiawi dan rasional oleh masyarakat, langkah-langkah untuk memperbaiki lembaga untuk penyakit mental, perhatian para penulis besar dan filsuf yang berpengaruh terhadap psikologi dan tingkah laku manusia, dan suatu sistem klasifikasi yang komprehensif bagi kekalutan mental. Tahun 1952: Obat antipsikotik konvensional pertama, chlorpromazine diperkenalkan untuk pertama kalinya dan digunakan untuk menangani pasien skizofrenia dan gangguan mental utama lainnya. Tahun 1979: NAMH menjadi the National Mental Health Association (NAMH).

3. Teori Kepribadian Sehat Menurut:
• Aliran Psikoanalisa
Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu.
Kepribadian Sehat Psikoanalisa:

1. Menurut freud kepribadian yang sehat yaitu jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah.
2. Kemampuan dalam mengatasi tekanan dan kecemasan, dengan belajar.
3. Mental yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego.
4. Tidak mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya.
5. Dapat menyesuaikan keadaan dengan berbagai dorongan dan keinginan

Pandangan kaum psikoanalisa, hanya memberi kepada kita sisi yang sakit atau kurang, ‘sisi yang pincang’ dari kodrat manusia, karna hanya berpusat pada tingkah laku yang neuritis dan psikotis. Jadi, aliran ini memberi gambaran pesimis tentang kodrat manusia, dan manusia dianggap sebagai korban dari tekanan-tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak.
• Aliran Behavioristik
Teori Behaviorisme sendiri pertama kali diperkenalkan oleh John B. Watson (1879-1958). Behaviorisme juga disebut psikologi S – R (stimulus dan respon). Behaviorisme menolak bahwa pikiran merupakan subjek psikologi dan bersikeras bahwa psikologi memiliki batas pada studi tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang yang dapat diamati. Aliran behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu system kompleks yang bertingkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum.
Aliran behaviorisme memiliki 3 ciri penting:

1. Menekankan pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen pada perilaku.
2. Menekankan pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
3. Memfokuskan pada perilaku binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami antara perilaku manusia dan perilaku binatang. Kita dapat belajar banyak tentang perilaku diri kita dari studi tentang apa yang dilakuka binatang. Menurut penganut aliran ini perilaku selalu dimulai dengan adanya suatu rangsangan yaitu adanya berupa stimulus dan diikuti beberapa reaksi berupa respon terhadap rangsangan itu.
Kepribadian yang sehat menurut behavioristik:

1. Memberikan respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan lingkungannya.
2. Bersifat sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman.
3. Sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan sendiri.
4. Menekankan pada tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang obyektif.

• Aliran Humanistik
Aliran ini berkembang pada tahun 1950. Humanistik merasa tidak puas dengan behaviori maupun dengan aliran psikoanalisis. Aliran humanistik ini mengarahkan perhatiannya pada humanisasi yang menekankan keunikan manusia. Psikologi Humanistik manusia adalah makhluk kreatif, yang di kendalikan oleh nilai-nilai dan pada pilihan-pilihan sendiri bukan pada kekuatan-kekuatan ketidaksadaran. Aliran humanistik memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang membedakan menusia dengan binatang, yaitu kebebasan untuk memilih (freedom for choice) dan kemampuan untuk mengarahkan pekembangannya sendiri (self-direction). Banyak ahli menyebut teori tersebut sebagai “self-theorities” karena teori-teori tersebut membahas pengalaman-pengalaman batin, pribadi, yang berpengaruh terhadap proses pendewasaan diri seseorang, dan pertumbuhan itu diarahkan pada aktualisasi diri.
Kepribadian yang sehat menurut humanistik perilaku yang mengarah pada aktualisasi diri:
1) Menjalani hidup seperti anak, dengan penerapan dan konsentrasi penuh.
2) Mencoba hal-hal baru ketimbang bertahan pada cara-cara yang aman dan tidak berbahaya.
3) Lebih memperhatikan perasaan diri dalam mengevaluasi oengalaman ketimbang suara tradisi, otoritas, atau mayaoritas.
4) Memikul tanggung jawab.
5) Bekerja keras untuk apa saja yang dilakukan.

 

Penulis.

Herru Jenliantoni P.   13512440.

Jefri Purwanto.          13512914.

Nurul Syahfitri.          15512552.

Raindy Widura A.      15512958.

 

Datang. kau yang menghampiri. Mengetuk dan membuka pintu. Menyapa dan menunggu.

 

Pulang. Aku yang mencoba menutup pintu. Mengunci dan membuangnya. Melupakan dan meninggalkan.

 

 

Sudah kubilang, aku tidak ingin memaksakan. Jika tidak ingin, tak perlu berpura-pura. biar rindu inipun tak sia-sia.

Masih menikmati senja bersama alunan rindu yang menggebu.
Menggetarkan hati menjadikan sukma melewati hari sore.
Bersama tenggelamnya matahari yang bersandar pada peraduan. Laksana embun yang bercengkrama pada dedaunan.
Hembusan angin yang menjatuhkan daun kering menjadikan hiasan untuk tanah yang basah.
Tak usah resah pada hati yang gelisah. Layaknya pasir yang tersapu oleh ombak.
Tak perlu kau pikirkan malam yang menjadi siang. Dalam keheningannya, aku masih bercumbu pada kesyahduan.
Segumpal awan terlilit kenangan yang menjadikan hitam.
Tatkala letih menggerogoti jiwa yang terkurung pada sangkar emas. Menunggu bulan membulat penuh liat.

Aku yakin. Disetiap aku menjatuhkan keningku dan kamu menjatuhkan lututmu, pasti terselip doa untuk kita.