Masih menikmati senja bersama alunan rindu yang menggebu.
Menggetarkan hati menjadikan sukma melewati hari sore.
Bersama tenggelamnya matahari yang bersandar pada peraduan. Laksana embun yang bercengkrama pada dedaunan.
Hembusan angin yang menjatuhkan daun kering menjadikan hiasan untuk tanah yang basah.
Tak usah resah pada hati yang gelisah. Layaknya pasir yang tersapu oleh ombak.
Tak perlu kau pikirkan malam yang menjadi siang. Dalam keheningannya, aku masih bercumbu pada kesyahduan.
Segumpal awan terlilit kenangan yang menjadikan hitam.
Tatkala letih menggerogoti jiwa yang terkurung pada sangkar emas. Menunggu bulan membulat penuh liat.

Aku yakin. Disetiap aku menjatuhkan keningku dan kamu menjatuhkan lututmu, pasti terselip doa untuk kita.

Entah harus berapa pagi lagi aku menanti. Dirimu yang tak kunjung kutemui. Telah Kutitipkan salam untukmu pada Tuhan melalui doa. Semoga kau mendengar di luar sana.

Jika setiap memikirkanmu adalah malam bagiku, maka tidak akan ada pagi di dunia ini. Pun jika setiap rindu ini adalah sebuah perjalanan, maka tidak akan sampailah aku pada tujuan.

Tuhan menitipkan rindu yang amat besar kepadaku, untukmu. Melampaui batas kuasaku. Menjadikanmu cerita penuh nyawa. Entah, apakah kau sadar. Ataukah mungkin kau hanya bekelakar. Dan aku hanya bisa bersabar.

Aku, yang kalian hina.

Kubuka laci kecil di kelasku. Debu yang menjadi hiasan laci itu, kusapu dengan jemari. Terlihat kertas usang bertulis tangan yang rapi. Entah ini milik siapa. Kucoba buka dan membacanya.

“Cukup untukku mengetahui apa arti dari sebuah pertemanan. Kembali kepercayaanku terluka. Tak bisa aku simpan terlalu lama rasa kecewa yang mengendap ini.

Sudah. Aku tak perduli lagi apa saja yang kalian bicarakan tentangku. Cukup bagiku mempunyai dua tangan untuk menutup telinga ini. Pun aku hanya bisa tersenyum.

Setelah ku pikir, mungkin kalian jijik denganku. Dan kalian telah masuk terlalu jauh dalam kehidupanku. Memang, kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Jika begitu, bukankah lebih baik kalian diam jika tidak tahu apa yang terjadi? Bukan mempercayai apa yang orang lain bicarakan.

Aku tidak marah. Hanya kecewa. Aku tak punya hati untuk marah kepada kalian. Bagiku, kalian adalah pembelajaran untukku. Entah berapa lama lagi aku benar-benar kuat.

Kini, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Bagaimanapun, tangaku ini, pernah menggenggam tangan kalian.

Di sini. Di diri ini. Aku, yang kalian hina.”

Tertunduk diriku setelah membaca tulisan itu. Akan kubawa dan kubingkai kertas itu untuk kupajang di dinding kamarku.

Aku yang menunggumu. Yang mencoba berbicara di depanmu. Tetapi kau hanya memunggungiku. Tak bisakah kau berbalik walau hanya sebentar? Lepaskan egomu. Berikan waktu untukku.

Jika kamu tidak ingin, mengapa harus dipaksa? Aku bukan seseorang yang suka memaksa kehendak. Pun aku tidak keberatan jika kamu tidak ingin.

Berbicaralah jika itu inginmu. Aku bukan orang yang dapat membaca pikiran. Bagaimana aku bisa tahu jika kamu tidak memberi tahuku?

Mungkin kau tersadar dengan lenyapnya senyum dan candaku, tuan. Tapi apakah kau perduli? Seperti mencoba untuk menggunting cermin yang kau beri semalam. Tidak mungkin.

Aku tersenyum. Senyumku mungkin hanya aku saja yang bisa melihatnya. Iya, hatiku tersenyum. Hanya bisa tersenyum melihat tingkahmu, tuan.

Tidak perlu kau bertanya apa yang aku senyumkan. Jika saja nanti cermin yang akan kugunting dapat terbelah dua, akan kuberi untuk kau satunya agar kau bisa melihat apa yang sedang aku senyumkan.