2015 dan Lelaki Penghibur.

Sudah berjalan 9 hari di 2016. Tetapi, rasa dan bayang-bayang 2015 masih menari meminta untuk dilihat dan diberi tepukan. Ya. 2015 tidak bisa kututup begitu saja. Terlalu banyak tulisan yang menunggu untuk diperlihatkan.

Naik turun kehidupan. Jatuh bangun kenyataan sudah dilalui pada tahun itu. Proses mencari jati diri; mungkin bisa dikatakan seperti itu. Memutuskan sebuah keputusan yang sangat berat pun aku lakukan. Ingin berlari dari sebuah kegelisahan bukan suatu cerita baru.

Lelaki penghibur. Diriku menyebutnya. Ya.
Aku menjadi lelaki penghibur.

Setiap hari adalah proses. Rasa lelah selalu terkalahkan oleh keinginan yang diimpikan. Saat merasa lelah, selalu berpikir; aku melakukan ini semua untuk membahagiakan diri dan keluargaku. Jika tercapai, yang bahagia bukan hanya aku, melainkan juga keluargaku.

Menjadi lelaki penghibur tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Aku harus tetap menghibur walaupun diriku sendiri butuh hiburan. Lucu, bukan?

Seperti di saat almh. Eyangku terbaring di rumah sakit. Saat itu, sehabis menjenguk beliau, aku harus segara berlarian dengan waktu untuk menghibur orang banyak. Bukan hal yang mudah untukku. Pikiranku kacau. Tetapi, ini harus kulakukan karena ini profesiku. Apa aku akan menghibur dengan setengah hati? Tentu tidak. Lelaki penghibur sepertiku harus bisa membagi pikirannya. Di belakang panggung, aku boleh terlihat sedih. Namun di atas panggung, aku adalah tuan rumah. Seperti tuan rumah yang baik, aku harus menyuguhkan yang terbaik untuk tamu-tamuku.

Kalau kalian bilang munafik, tidak juga. Aku hanya melakukan apa yang harus aku kerjakan.

Memang, 2015 telah usai. Hanya angka yang berubah. Bukan impian dan harapan.

2016 telah berjalan. Pasti ada rintangan, namun terdapat keberanian dan harapan di ujung jalan.

– Abiseka.

Dua Puluh Satu.

Kamis, 13 Oktober 1994.

Matahari berganti peran.
Awan enggan beranjak.
Langit membawa hujan.

***
Seorang wanita memperjuangkan hidupnya untukku. Di antara rasa sakit, terdapat rasa haru ketika tangis pertama keluar dari mulut mungilku. Ya, wanita itu yang saat ini kusebut dengan “Mama”.

Adzan terdengar di ruang persalinan. Seorang pria melafalkannya dengan haru yang tertahan. Rasa syukur beriringan dengan kebahagian. Seorang pria itu yang kini kupanggil “Papa”.

Seorang anak laki-laki yang kini telah dewasa. Memang, belum banyak pengalaman hidup yang ia temui. Tetapi, sedikit banyak ia telah mengerti apa arti hidup. Dan ia adalah, aku.

***

Sudah berapa lama kau hidup di dunia ini?
Sudah berapa banyak pelajaran yang semesta berikan kepadamu?
Atau
Sudah berapa jauh kakimu melangkah mengitari luasnya mimpi yang menunggu untuk diwujudkan?

Jawabannya ada pada dirimu.

***
Menuju dua puluh satu, semesta begitu banyak memberi kejutan. Ia tidak henti-hentinya membawa cerita baru untuk kehidupan. Pun tidak jarang memberikan pelajaran.

Menuju dua puluh satu, banyak keputusan yang harus segera dilakukan. Baik atau buruknya merupakan resiko perjalanan. Rasa salah pun terkadang singgah. Tapi bukan suatu masalah.

Menuju dua puluh satu, satu persatu mimpi mulai diwujudkan. Berdiri melawan ketakutan. Melaju bersama kekuatan.

***
Alhamdulillah. Sudah menjadi dewasa dalam usia. Bukan lagi saatnya bermain-main. Banyak tujuan yang harus disinggahi untuk dituntaskan.

Lebih banyak bersyukur. Diberi kesempatan untuk menikmati hidup. Tidak lupa untuk berterima kasih kepada yang mempunyai semesta.

Bismillah. Selamat dua puluh satu.

Teruslah bercerita. Semesta tak akan berdusta.

-Abiseka.

Bersitan Doa.

Pa…

Selama aku berada di dunia ini, mungkin baru sedikit hal yang membuat papa bangga terhadapku.
Selama aku berada di dunia ini, mungkin banyak kesal papa terhadapku.
Selama aku berada di dunia ini, tak dapat kuhitung kebaikan papa terhadapku.

Pa…

Rambutmu kini telah berganti warna. Tidak seperti saat kau mengadzani diriku untuk pertama kali.
Kulitmu mulai keriput. Tanda telah banyak cerita yang telah kau punya.

Pa…

Seperti halnya seorang anak terhadap ayahnya, aku sangat beruntung bisa menjadi anak papa.
Kerja keras papa selama ini membuatku kagum.
Keihklasan papa membanting tulang untuk kami membuahkan rasa syukur yang tidak terhingga.
Ketegasan papa dalam mendidik kami, membuat kami tegar dan ikhlas setiap mengahadapi apapun.

Pa…

Jika sudah saatnya, aku akan menjadi seorang ayah seperti papa.
Aku akan menjadi imam untuk keluargaku.
Aku akan menjadi panutan untuk anak-anakku.
Aku akan selalu menggunakan ilmu yang papa berikan walaupun tak pernah ada dalam buku catatan. Karena semua itu telah kucatat dalam ingatan.

Pa…

Selamat ulang tahun.
Terima kasih atas segala keikhlasan.
Terima kasih atas segala pelajaran.
Terima kasih atas segala kasih sayang dan telah menjadi papa yang baik untuk kami.

Pa…

Aku hanya dapat bersimpuh di hadapan Tuhan untuk selalu mendoakanmu.
Semoga papa selalu diberikan kesehatan dan panjang umur.
Semoga papa dapat melihat anak-anak papa mecapai kesuksesan dengan keringatmu yang telah bersenyawa dengan kerja keras kami.
Semoga papa dapat melihatku berdiri di atas panggung megah dan menyanyikan lagu tentang ayah. Iya, lagu untukmu.

Banyak lagi doa yang akan kuserahkan kepada Tuhan untukmu.
Semoga Tuhan mendengar dan mengabulkan semua doa-doaku.

Sekali lagi, selamat ulang tahun pa…

Anak pertamamu,
Raindy Widura Abiseka.

Ketika lelah tak akan berarti.
Ketika malam pun enggan beranjak berganti dengan pagi.

—–

Kepada wanita yang akan berada 1 shaf di belakangku.

Saat ini aku tak tahu siapa dirimu.
Mungkin kita sudah saling mengenal.
Atau mungkin kita belum pernah mendengar nama masing-masing dari kita sekalipun.

Siapapun dirimu nanti, aku harap aku bisa membawamu untuk menjadi bidadari surgaku.

Siapapun dirimu nanti, aku harap aku menjadi bahu untuk bersandar saat kamu lelah.

Siapapun dirimu nanti, aku harap aku menjadi orang yang terakhir mengecup keningmu disaat kau terlelap.

Kepada pelengkap malamku.
Pada saat aku berjabat tangan dengan ayahmu nanti, aku telah yakin bahwa kamulah yang diturunkan Tuhan untuk meng-amin-kan semua doa-doa kita.

Kamulah yang akan menjadikan keluarga kecil kita menjadi lengkap dengan kehadiran anak-anak kita kelak.

Kamulah yang akan menjadi makmum-ku beserta anak-anak kita. Dan aku akan menjadi imam, baik dalam shalat maupun keluarga.

Kepada penghapus lelahku.
Biarkanlan saat ini aku berusaha untuk mewujudkan cita-citaku.

Biarkanlah saat ini aku membangun semua mimpiku.

Biarkanlah saat ini aku berdoa agar Tuhan segera mempertemukanku denganmu.

Semoga Tuhan tidak lelah mendengar semua doa-doaku.

—–

Jakarta, 10 Maret 2015.
-Abiseka.

Lembar Ketiga.

Tutup.

Kemudian, ku buka.

Baru.

Baru saja.

Ku tutup mata pada lembar pertama dan kedua. Ku buka pada lembar ketiga.

Tuangkan teh pada kertas. Tak perlu kopi.

Ringan.

Beri sedikit gula. Jika tak ingin, tak perlu.

Aku perlu. Agar manis.

Kopi? Sudah ku beri gula. Tetap pahit. Aku tak suka.

Pada lembar ketiga, basah teh memaniskan kertas.

Pada lembar ketiga, ku harap akan sampai pada lembar berikutnya.

-Abiseka.

Berada dalam satu lingkaran, salah. Tidak berada dalam satu lingkaran pun salah. Tidak ada hentinya bergunjing tentang keputusan seseorang.

Tidakkah lebih baik diam atau setidaknya bertanya daripada membicarakan sesuatu yang tidak tepat?

Kau yang membuat berita, kau yang menyebarkan dan kau yang lari dari pertanggung jawaban.

Sudah cukup ku memberi ruang. Sekarang sudah tahu apa yang harus kulakukan. Tersenyum. Iya, tersenyum. :)

Aku tahu siapa yang selalu ada dan siapa yang hanya ingin mencari muka. Aku tahu siapa yang peduli dan siapa yang hanya ingin tahu.

Biarkan mereka berucap apa yang ingin mereka ucap. Ada saatnya nanti mereka diam dengan sendirinya. Entah kapan. Tetapi ku harap, secepatnya.

Cerita Yang Bercerita.

Hidup memang tidak semudah mencari-cari kesalahan orang lain. Pun hidup tidak semudah memberikan ‘love’ di Path. Untuk itu, saya menghargai hidup dan orang-orang yang telah mengajarkannya kepada saya.

Saya beruntung mengenal dia. Seseorang yang rela berkorban dan penuh tanggung jawab. Dan dia merupakan ‘guru’ saya.

Perkenalan saya dengannya berawal hanya sebatas saya tahu dia, dan dia tidak tahi saya. Awalnya, saya menganggap hanya sebatas ketua dan anggota. Tidak lebih. Tetapi, semesta punya caranya sendiri. Semesta ingin saya belajar banyak darinya.

Awal perkenalan, dia sudah banyak cerita kepada saya. Bagaimana seseorang yang baru kenal, tetapi dia sudah banyak cerita? Mungkin itu pertanda jika dia sepaham dengan saya. Pikir saya waktu itu.

Hari demi hari, semakin sering saya bertemu dengannya karena memang kami sering meeting bersama. Saya semakin intens dengannya. Telah banyak cerita yang ia sampaikan kepada saya.

Saya semakin merasa bahwa kami satu pemikiran. Dan ternyata itu benar. Dari cerita yang ia sampaikan, kami mempunyai beberapa persamaan. Jika kalian bertanya-tanya siapakah dia, maka dia adalah Nur Aini Sekar Putri Mentari.

Kak Ajeng. Begitu saya menyapa-nya. Seorang anak perempuan yang ambisius dan kharismatik. Mempunyai jiwa kepemimpinan yang penuh tanggung jawab. Mempunyai ide-ide brilian dan rela berkorban untuk kepentingan bersama.

Dia adalah mantan ketua BEMF Psikologi di mana saya kuliah. Baru saja ia melepas masa jabatannya.

Sudah tidak ada lagi rasa canggung seperti saat awal-awal saya mengenalnya. Dia adalah kakak saya. Telah banyak yang dia ajarkan kepada saya baik langsung maupun tidak langsung.

Ada sedikit rasa penyesalan kenapa tidak dari dulu saya mengenalnya. Memang, penyesalan selalu datang di akhir.

Kami sering bertukar cerita. Baik itu tentang perkuliahan, bahkan sampai hal yang pribadi sekali pun. Seperti tentang percintaan dan keluarga. Hubungan saya dengan dia memang sudah sangat dekat.

Sebagai seorang kakak, dia sangat perhatian. Bukan saja kepada saya, melainkan kepada banyak orang. Jika kata orang Jawa, dia itu ‘ngemong’.

Suatu ketika, kami sedang membahas acara kami disebuah tempat jajan. Dan tiba-tiba datanglah, maaf, waria mengamen. Kami berdua langsung lari ke dalam. Oh iya, saat sedang berdiskusi, kami berada di luar. Ternyata dia memiliki ketakutan yang sama dengan saya. Bagi saya, ini lucu. Hehe.

Lain ceritanya saat kami sedang survei tempat ke daerah kota tua. Saat ingin membeli tiket commuter dari stasiun Jakarta Kota, saya dan dia antri sangat panjang. Tiba-tiba datanglah satpam dan bertanya kami hendak ke mana. Lalu kami jawab, Depok. Dan satpam itu bilang lagi jika kami salah antri. Loket yang sedang kami antri itu loket khusus kereta luar kota.

Banyak sekali hal-hal yang bagi kami konyol. Entah itu saya yang mengalami, dia ataupun kami. Jika saya tulis, saya rasa tidak akan selesai.

Kak Ajeng, 8 Juli lalu kakak berulang tahun. Sudah 22 tahun kakak menuliskan kisah hidup kakak. Sudah banyak orang yang menjadikan kakak inspirasi-nya termasuk saya.

Maaf, tidak ada yang bisa saya berikan, selain doa yang tulus dan tulisan ini. Saya selalu ingat bahwa tidak penting seberapa jauh kita berada, doa akan selalu menjadi jembatan untuk kita.

Kak Ajeng. Cepat selesaikan skripsi-mu. Pakailah toga dan bawa harum nama keluarga. Ingat, di ujung sana sudah ada yang menunggumu. Seseorang yang sering kamu ceritakan :)

Kak Ajeng. Jangan lupa terus doakan kami, para adikmu. Biar kami mempunyai jiwa yang tangguh seperti anda. Jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab yang besar. Jiwa rela berkorban untuk sesama.

Kak Ajeng. Terima kasih telah memberikan banyak cerita. Memberikan banyak pelajaran. Memberikan banyak waktunya untuk kami.

Sekarang saatnya Kakak fokus untuk masa depan kakak. Bekerja sebagai wanita karir, mempunyai EO, dan tinggal di luar negeri untuk nantinya kembali dan membawa banyak pelajaran baru untuk kami. Bukan begitu, kak?

Satu lagi, kak. Hidup terlalu singkat untuk memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan.

Sekarang, saya hanya ingin bilang bahwa saya sangat sayang kepada kakak.

Jangan pernah lupakan kami, para adikmu. Para pasukan bodrex :)

With love, R. Widura Abiseka.

Surat Berhijab.

Bismillahirahmanirahim. Segala puji dan syukur saya panjatkan… *Ngoengg, kelindes sepeda*

Jadi gini, di twitter saya lagi rame tentang surat terbuka. Mungkin suratnya belom dapet hidayah, jadi masih terbuka. Maka, izinkanlah saya untuk menulis surat berhijab.

*TEBAR-TEBAR POTONGAN KERTAS WARNA-WARNI*

SMAN 3 Jakarta. Boleh dibilang merupakan tempat lahir saya. Kenapa? Karena saya memang telah ingin menjejakan kaki di sana sejak saya masih SMP. Tidak perlu ribet memilih SMA, pikir saya. Toh nanti sama-sama pake baju putih-abu-abu.

Jika kalian tahu alasan saya memilih menjadikan SMA 3 sebagai tempat saya belajar, mungkin kalian akan tertawa. Alasan saya karena SMA 3 merupakan sekolah favorite dan sekolah artis. Kalian tau Jason Mraz, Bruno Mars, bahkan Queen Beyonce? Nah mereka itu penyanyi. Bukan. Bukan alumni SMA 3. Se-simple itu.

Jadi, begini….

Di tempat ini, saya menghabiskan 3 tahun dengan sangat penuh kecerian. Tapi tidak jarang teselip kesedihan. Seperti saat ingin tes TOEFL saya harus memanjat pagar karena saya telat. Ya, itu merupakan kesedihan menurut saya, karena anak baik macam saya mana mungkin manjat pagar? Oke, maaf.

Tahun pertama, saya masih sangatlah polos. Dengan masih mengenakan seragam putih-biru, tergantung di dada lambang SMA 3 yaitu bunga tulip beserta foto dengan lipstik hijau dan merah tidak ketinggalan gelang-gelang yang memenuhi kedua belah tangan.

‘Acicole acicoleta acicampe’em acem acem acem, huh’ bagi sebagian kalian, pasti ingat dengan jargon itu. Semua siswa yang baru masuk, pasti akan mengumandangkannya. Termasuk Nikita Willy. Iya, Nikita Willy. Orang yang pertama ditanyakan ketika seseorang menanyakan asal SMA saya. “Oh lo anak 3? Kenal Nikita Willy, dong?” Terus saya jawab “Oh Nikita Willy yang kenal saya.”

Di tahun ini, saya menemukan teman saya yang sangat cerdas. Disaat ia akan membeli mie yamin bude bersama seorang temannya, karena gak mau ribet, jadilah 2 mie yamin dijadikan 1. Nah, kemudian terjadi percakapan.

“Eh lo biasanya sambelnya berapa sendok?” Tanya (sebut saja) Bunga.
“6 sendok” Jawab (sebut saja) Bangke. Lalu Bunga pun nyaut
“Gue juga biasanya 6, yaudahlah, jadi 12 sendok”.
Akhir kata, Bunga dan Bangke inipun masuk ruang ICU. Nggak deng :))))

Tahun kedua saya sudah menjadi anggota Social. Iya, saya anak IPS. Ikatan Pelajar Sukses. Aamiin. Hidup anak IPS benar-benar penuh dengan bersosialisasi. Yep, bersosialisasi dengan mengunjungi kelas-kelas lain, mengunjungi orang-orang koperasi dan kantin saat jam pelajaran berlangsung bahkan mengunjungi satpam hanya sekadar untuk bercakap-cakap lalu gak lama kemudian udah di depan pagar sekolah aja. Oh, anak IPA juga untuk yang satu ini. *Ditendang*

Oh yes! Di tahun ini saya sekelas dengan seorang murid yang cubanget! Di saat pelajaran sedang berlangsung dan guru sedang menerangkan, dia tidur ajadong di kolong meja. Jangan sedih, dia udah sedia pulpen sebelum kena marah. Untuk apa? Ya untuk alasan dong kalo ditanya guru ngapain dia di kolong meja. Kurang lebih seperti ini.

Guru: “Heh yang di sana, ngapain kamu di kolong?”
Murid: ” ini bu, ngambil pulpen yang jatoh” *sambil nunjukin pulpen yang telah ia siapkan*

Saya gak akan nyebut nama, tapi yang pasti, teman saya ini finalis abang none selatan 2014. *KEPROK TANGAN*

Tahun ketiga saya masih menjadi anak yang gemar bersosialisasi. Oh di tahun ini bukan hanya belajar biasa aja di kelas, tapi ditambah bimbel BTA. Jangan sedih, iuran di tahun ketiga ini lumayan kalo buat belanja di Pull&Bear. Dapet lah jeans sama kaos. Indah, bukan? :)

Cielah anak kelas XII. Seragam anak kelas XII biasanya udah mrecet-mrecet nih. Bukan, bukan karena gak muat. Emang pada dikecilin aja. *mingkem*

Di tahun ini sih yang bikin sedih. Secinta-cintanya saya di SMA 3, cukup 3 tahun sahaja.

Kehidupan selama 3 tahun saya gak se-simple alasan saya untuk masuk SMA 3. Nggak kelar dong kalo saya ceritain semua. Kehidupan SMA saya, kurang lebih sama lah dengan kalian. Oh mungkin bedanya ya itu tadi. Kabar saya jarang ditanyakan, lebih sering ditanya kabar kakak Niki. (((Kakak Niki))).

Eh tapi sebentar. Belakangan ini, nama SMA 3 lebih sering diperbincangkan. Entah, saya tidak akan membahasnya. Setau saya, SMA 3 itu SMA Teladan. Teladan, Tiga, Teladan.

Oh ini yang bikin saya kesel kalo nulis tentang SMA. Banyak yang mau diceritain, tapi males ngetiknya. Saya butuh joki. Mungkin yang biasa diri di pinggir jalan Sudirman bisa membantu saya. *salah joki, itu joki 3 in 1* itu joki apa kopi kapal api susu? Kok 3 in 1?

MAAFKAN SAYA SAUDARA-SAUDARA!!!!

Udahlah. Btw kalian udah bayaran iuran belom? Ini nih yang seru, kalo yang belom bayaran pas mau uts atau uas, gak bisa dapet legitimasi. Ujung-ujungnya pake kertas kuning. :)))

1 lagi. SURAT KUNING KALIAN UDAH ADA BERAPA LEMBAR, GAES? GAES? KOK KABUR?

Akhir postingan, cukup sekian dan terima kiriman parcel dan kue kering untuk lebaran.

JAYA-JAYALAAAH SMA TIGA, UNTUK SLAMA-LAMANYAAA~

“Di antara kita, hanya saling memandang, tanpa menggenggam.”

“Di antara kita, hanya aku yang merindu dan kamu yang menjauh.”

“Di antara kita, terdapat jurang yang begitu dalam, dan lelehan rindu pada dasarnya.”

“Di antara kita, hanya ada satu kata. Yaitu, cinta.”