Kepada bulan lalu…


Kepada bulan lalu. Sebelumnya, terima kasih telah hadir untuk melengkapi bulan-bulan sebelum dan sesudah kamu.

***

Seperti menenggak secangkir kopi. Ada manis, terkadang pahit. Ya, seperti itu bulan lalu. Manis sekali ketika melewati sebuah angka sial, menurut sebagian orang. Tetapi tidak untukku. 13 bukan angka sial menurutku. Bagaimana tidak? 13 itu tanggal kelahiranku. Bagaimana bisa tanggal kelahiranku, aku katakan sebagai tanggal yang sial? Entahlah.

Aku berterima kasih kepada kalian yang telah memberiku banyak sekali doa. Kalian hebat! Kurasa Tuhan tersenyum ketika banyak sekali ‘Aamiin’ yang kuucapkan🙂 Sampai di sini? tidak.

***

Pahit. Pahit pada ampas kopi itu datang dengan cepat ketika rasa manisnya belum hilang. Pahit yang sangat pahit.

Ketika kematian datang dengan tidak menyapa. Datang dan langsung membawa pergi apa yang ia cari. Tidak sopan. Mungkin aku saja yang tidak siap menerima kedatangan dia. Jika saja dia seperti tamu yang datang malam-malam tanpa permisi, mungkin saja sudah kuusir. Kututup semua pintu dan jendela rapat-rapat biar dia tidak datang, bahkan mengintip sedikitpun.

Tetapi, apakah kita bisa menghalangi datangnya kematian? tidak. Tidak satu orangpun yang bisa menutup pintu dan jendela rapat-rapat agar kematian tidak datang.

Sudahlah. Manis dan pahit itu sudah dalam satu nauangan. Naungan kehidupan. Siapapun pasti dapat merasakannya. Saat manis dan pahit datang bersamaan, itu membuktikan bahwa kehidupan itu seperti halnya menaiki bianglala. Aku berada di bawah saat naik, tetapi begitu naik aku pun bisa berada di atas. Pun aku nanti harus turun kembali.

Kepada bulan lalu, aku titipkan cerita manis ini sebagai rasa terima kasihku, karena aku masih bisa berada pada semesta ini. Dan aku titipkan pula cerita pahit sebagai rasa kepada Tuhanku. Tuhan yang telah mengingatkan bahwa kehidupan bukanlah hanya sekadar ‘hidup’ tetapi untuk mengumpulkan bekal dikehidupan selanjutnya.

Pada akhirnya kepada kamu, bulan saat ini. Aku menunggu cerita manis, pun pahit darimu. Jika saja boleh menawar, sedikit saja cerita pahit yang kau berikan. Dan maniskan semua cerita kehidupanku pada semesta ini🙂

Andai saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s