Mungkin kau tersadar dengan lenyapnya senyum dan candaku, tuan. Tapi apakah kau perduli? Seperti mencoba untuk menggunting cermin yang kau beri semalam. Tidak mungkin.

Aku tersenyum. Senyumku mungkin hanya aku saja yang bisa melihatnya. Iya, hatiku tersenyum. Hanya bisa tersenyum melihat tingkahmu, tuan.

Tidak perlu kau bertanya apa yang aku senyumkan. Jika saja nanti cermin yang akan kugunting dapat terbelah dua, akan kuberi untuk kau satunya agar kau bisa melihat apa yang sedang aku senyumkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s