Aku, yang kalian hina.


Kubuka laci kecil di kelasku. Debu yang menjadi hiasan laci itu, kusapu dengan jemari. Terlihat kertas usang bertulis tangan yang rapi. Entah ini milik siapa. Kucoba buka dan membacanya.

“Cukup untukku mengetahui apa arti dari sebuah pertemanan. Kembali kepercayaanku terluka. Tak bisa aku simpan terlalu lama rasa kecewa yang mengendap ini.

Sudah. Aku tak perduli lagi apa saja yang kalian bicarakan tentangku. Cukup bagiku mempunyai dua tangan untuk menutup telinga ini. Pun aku hanya bisa tersenyum.

Setelah ku pikir, mungkin kalian jijik denganku. Dan kalian telah masuk terlalu jauh dalam kehidupanku. Memang, kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Jika begitu, bukankah lebih baik kalian diam jika tidak tahu apa yang terjadi? Bukan mempercayai apa yang orang lain bicarakan.

Aku tidak marah. Hanya kecewa. Aku tak punya hati untuk marah kepada kalian. Bagiku, kalian adalah pembelajaran untukku. Entah berapa lama lagi aku benar-benar kuat.

Kini, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Bagaimanapun, tangaku ini, pernah menggenggam tangan kalian.

Di sini. Di diri ini. Aku, yang kalian hina.”

Tertunduk diriku setelah membaca tulisan itu. Akan kubawa dan kubingkai kertas itu untuk kupajang di dinding kamarku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s