Tanggal dua bulan lima. Jemari kaku menunggu pagi. Gelasku pecah tak bertepi. Rindu menyiksa, menyisakan perih.

Sayang, bagaimana kabarmu? Kaki kecil enggan berlari seolah tak ada rasa ingin pergi. Aku ingin menggunting jarak. Agar kita tak berpisah, kelak.

Aku berlindung dari pamit yang sedari tadi mengintip.  Tak semestinya ia datang tanpa permisi. Pun aku tahu, purnama tak bertahan selamanya.

Sudah. Sudah. Esok pagi embun siap membasahi kelopak bunga yang bermekaran. Jika kamu harus pergi, aku siap meniup-niup lukaku sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s